Pages

Showing posts with label make money. Show all posts
Showing posts with label make money. Show all posts

Tuesday, 18 October 2011

Karyawan juga Harus Punya Mental "Entrepreneur"

Apa yang pertama kali terlintas di benak Anda saat mendengar istilah “mentalitas entrepreneur”? Banyak orang langsung mengartikannya sebagai mentalitas pedagang yang berorientasi meraup sebanyak-banyaknya untung, dan tujuannya “UUD” alias “ujung-ujungnya duit”.
Dengan pengertian ini, banyak orang yang secara halus ataupun terang-terangan menolak untuk mengembangkan mentalitas entrepreneur. Ada yang merasa tidak berbakat, ada pula yang menilai mentalitas ini tidak sesuai dengan nilai-nilai yang ia pegang karena ia lebih mengunggulkan nilai-nilai lain ketimbang berfokus pada upaya untuk mencari uang saja. Sebagian orang beranggapan bahwa entrepreneur atau wirausaha adalah sebuah profesi atau alternatif profesi, ketika misalnya ia sudah pensiun. Dengan pandangan yang sempit mengenai kewirausahaan, tak heran bila kita melihat banyak orang yang banting setir menjadi wirausahawan malahan tidak berhasil.

Istri teman saya, yang suaminya bekerja sebagai pegawai negeri, mempunyai sebuah kebiasaan positif. Setiap menempati pos baru, ia mengajak suaminya bersilaturahmi ke tetangga baru dan para pejabat di kota itu. Setelah berkeliling selama satu minggu, sang istri biasanya sudah akan mengantongi beberapa murid yang berminat belajar bahasa Inggris dan belajar merangkai bunga di rumahnya. Sang istri yang berprofesi sebagai guru les ini, selain happy, nyatanya juga berpenghasilan lebih dari gaji suami sehingga keluarga hidup nyaman dan tidak berkekurangan.
Kita lihat bahwa nafas berwirausaha tidak sebatas ada pada para pedagang atau pengusaha. Seorang ibu rumah tangga yang berprofesi sebagai guru les saja bisa mempunyai semangat berwirausaha dan tidak pernah kehilangan kesempatan. Mentalitas wirausaha ini sebetulnya ditandai dari adanya semangat berprestasi dan kejelian menangkap serta menciptakan peluang untuk menghasilkan sesuatu yang lebih baik. Apakah semangat entrepreneur yang demikian ampuh ini tidak perlu dikembangkan dalam diri para karyawan dan pekerja kantoran?

Dalam keadaan ekonomi di mana kemapanan sudah tidak ada lagi, kita memang selalu akan dituntut untuk melakukan perbaikan. Perbaikan selalu bermuara pada kebutuhan pasar dan juga inovasi produk yang menjawab kebutuhan tersebut. Seorang pemilik perusahaan atau CEO memang dituntut untuk berpikir kreatif, melihat jalan keluar, dan menemukan produk-produk baru. Namun, bila perusahaan dipenuhi karyawan yang menjauhi mentalitas entrepreneur, siapa yang akan mengusung misinya dan mengimplementasikan ide-ide si pucuk pimpinan? Apakah perusahaan bisa survive bila dalam kultur perusahaan tertanam faham bahwa yang perlu berpikir secara wirausaha, hanya individu bagian tertentu saja, atau bahkan cukup si empunya perusahaan dan CEO-nya? Bukankah para karyawan lah yang akan menggerakkan roda perubahan bisnis yang disuarakan oleh para pucuk pimpinan?

Ukuran sukses
Dalam organisasi besar, di mana manajemen kinerja sudah dikembangkan dengan mantap, ukuran sukses kerap dihubungkan dengan pencapaian KPI (key performance indicator). Kita tahu bahwa memastikan pencapaian KPI adalah hal yang sangat penting dan positif, namun kita tentu sadar bahwa perusahaan kita ada di ambang masalah bila banyak karyawan berpuas diri dengan mengatakan: “Pokoknya, KPI kami sudah tercapai.” Kita pasti segera menyadari bahwa mekanisme fleksibilitas, menyusun prioritas, mendahulukan kepentingan pelanggan, mengendus perubahan pasar, dan mengetatkan barisan karena serangan kompetitor tidak bisa dijamin oleh pengukuran-pengukuran ini.

Mengembangkan mentalitas entrepreneur berarti mengajak setiap individu untuk melihat dirinya sebagai profesional sukses, di mana kesuksesan tersebut sambung-menyambung dan terus hidup untuk menyambut tantangan baru. Pengusaha kripik home-industry di kota Bandung, yang bisa meraup keuntungan puluhan juta rupiah per hari, mengungkapkan bahwa mereka mengembangkan pemasaran dari para rekan-rekan dan karyawan yang mereka sebut sebagai “jendral”. Para “jendral” dengan mentalitas entrepreneur yang terus berpikir kreatif inilah yang menghidupkan bisnis dan terus memperluas jaringan. Hal ini bisa dilakukan dengan membangkitkan rasa percaya diri dan memberi tanggung jawab kepada individu sehingga setiap orang bisa merasakan seolah dirinya adalah mesin produksi yang selalu memutar roda giginya dan berkata pada dirinya sendiri: “Saya bisa! Saya bisa!”

Menciptakan sukses
Pengertian sukses sebagai profesional sekarang perlu mengacu pada konsep diri yang lebih dalam. Kita tidak bisa lagi mengembangkan konsep diri sebagai "ambtenar" yang menunggu instruksi dari "pusat" atau "atas". Setiap individu, apapun dan di manapun posisinya, harus sudah menjadi pemain dalam bisnis yang dijalankan perusahaan. Ini berarti kita sendiri yang mesti punya visi mengenai seperti apa kita nantinya di masa datang.
Dengan sasaran pribadi yang jelas, kita otomatis akan lebih siap untuk menguatkan intensitas kerja dan lebih tahan terhadap kesulitan yang menghadang. Paradigma bahwa perusahaan yang bertanggung jawab untuk menyediakan sukses karier, kenaikan pangkat, penambahan fasilitas, sudah usang. Sukses karier hanya bisa dijamin oleh diri sendiri. Semua orang tahu bahwa kesempatan itu sebenarnya ada, bahkan gratis, tetapi harus ditemukan. Inilah salah satu inti dari mentalitas entrepreneur.

Kita juga perlu sadar bahwa kesempatan hanya bisa diraih oleh individu yang sudah punya ancang-ancang. Daud tidak mungkin bisa mengalahkan Goliat, bila ia tidak beribu kali berlatih bermain katapel. Itu sebabnya kerja keras, berlari kencang, bekerja dengan passion sudah harus standby ketika kesempatan datang. Tidak ada yang mengatakan bahwa mengembangkan mentalitas entrepreneur ini hal yang mudah. Namun, sikap mental yang sekadar menunggu sudah jelas tidak mendapatkan tempat lagi di kancah persaingan profesi sekarang ini.

Eileen Rachman & Sylvina Savitri/EXPERD CONSULTANT : kompas[dot]com


Saturday, 15 October 2011

Jalan Menuju Sukses di Peta Karir

SUKSES menjadi idaman setiap orang, mulai dari pelajar, pekerja kantoran bahkan pengusaha. Tetapi menjadi sukses tidak hanya dengan melakukan kegiatan rutin kita. 
Career map (peta karir) bisa menjadi pembuka jalan untuk mencapai jenjang karir berikutnya. 

Menurut Cherry Riadi L, konsultan karier dari EXPERD, peta karier adalah gambaran atau rencana pengembangan diri yang perlu ditempuh untuk kemajuan karier. Peta karier bisa menjadi alat agar Anda lebih terarah merealisasikan target karier di masa mendatang.

Peta karier membuat perjalanan Anda menuju puncak bisa lebih cepat. Pasalnya, Anda dapat mengukur potensi diri dengan mengetahui kelebihan dan kekurangan Anda, sehingga pengembangan diri pun menjadi lebih terarah. Anda dapat mengetahui, training dan tambahan keahlian apa yang paling tepat untuk Anda.

Idealnya, peta karier dirancang saat baru menapaki lingkungan kerja. Tapi, menurut Cherry, bukan berarti Anda yang sudah bekerja bertahun-tahun tidak bisa lagi membuat peta karier. Terutama, jika merasa ada yang salah dengan pekerjaan Anda. Misalnya, Anda baru menyadari karier Anda mentok, atau profesi yang digeluti saat ini bukanlah pekerjaan impian Anda.

Ketika Anda merasa karier kurang berkembang, dan memerlukan pengembangan diri yang bisa diperoleh dengan bergabung dalam perusahaan lain, maka tak perlu ragu melakukannya. Jadi, bukan hanya untuk karyawan yang ingin mencapai jenjang berikutnya di bidang sama, peta karier juga berlaku bagi yang ingin pindah ke perusahaan lain atau ‘banting setir’ melakukan alih profesi.

Ketika Anda memutuskan untuk membuat peta karier, yang penting adalah:

1.    Menghilangkan anggapan target harus bersifat ideal, sehingga pada praktiknya justru sulit dicapai karena kurang realistis.

2.    Melakukan evaluasi terhadap kompetensi posisi, dan pekerjaan saat ini. Tuliskan dalam kertas mengenai diri dan posisi Anda. Misalnya, Anda akan menjadi apa di beberapa tahun ke depan, karakteristik jabatan yang cocok, besar gaji, hingga kesempatan promosi.

3.    Selanjutnya, carilah informasi detail yang mendukung rencana peta karier, misalnya dengan banyak bertanya ataupun berdiskusi dengan rekan kerja atau orang yang berkompeten dalam satu posisi tertentu yang tengah Anda idam-idamkan.

4.    Ada kalanya muncul hambatan yang bisa mengubah peta karier Anda. Misalnya, perusahaan sedang dalam krisis keuangan, divisi Anda ditiadakan, atau rencana tertunda karena Anda hamil. Tak perlu kecewa, panik, apalagi sampai hilang semangat. Tetaplah optimistis mewujudkan peta karier yang sudah dirancang sebelumnya. 


sumber : femina[dot]com

Pekerjaan yang Cocok untuk Freelancer

Menjadi wanita karir sekaligus ibu rumah tangga bukanlah hal yang mudah. Seringkali kita dihadapi oleh pilihan-pilhan yang kadang menjadi dilema tersendiri. Di kantor kita dikejar deadline oleh bos, sementara di rumah pun banyak pekerjaan rumah yang terbengkalai. Akhirnya resign menjadi pilihan sebagian besar wanita karir yang sudah menyandang predikat ibu.
Menjadi ibu rumah tangga bukan berarti kita tidak bisa mempunyai penghasilan. Kita bisa bekerja dari rumah atau kita juga bisa bekerja sebagai freelancer.



Apapun pilihan kita agar tetap berpenghasilan, hal-hal yg perlu diperhatikan adalah : 

1. Anak Nomor Satu

Pada praktiknya, menjadi ibu sekaligus freelancer  tak semudah membalikkan telapak tangan. “Setiap pekerjaan memang ada stresnya. Yang tidak disadari para ibu muda, pekerjaan ibu rumah tangga itu pekerjaan yang tiada henti. Mutar-mutar  pekerjaannya itu-itu saja, mengurus anak dan suami, belum lagi pekerjaan rumah yang terus-menerus,” ujar Psikolog dan Konsultan Anak FAME, Erin Mutiara, M.Psi.  

Jika tidak siap secara lahir batin, Anda akan mudah terperangkap rasa jenuh dan stres yang sangat tinggi. Tak jarang, anak menjadi pelampiasan kekesalan ibu ketika dihimpit dua pekerjaan. Oleh karenanya, bekerja lepasan sangat bagus bagi para ibu yang ingin melakukan pergantian suasana dengan mengambil pekerjaan freelance atau part time job , apalagi kalau anaknya sudah bisa ditinggal atau dititipkan.

Kelebihan menjadi freelancer  adalah bisa mengatur sendiri kapan waktu yang tepat untuk mengambil pekerjaan. Artinya, waktu bekerja bisa disesuaikan dengan waktu mengurus anak, suami, hingga urusan rumah. Jadi, sambil tetap berkreativitas dan membantu pemasukan keuangan, Anda mempunyai pilihan untuk menjadikan keluarga sebagai prioritas utama.


2. Siapkan Hati

Meski bisa bekerja dari rumah, bukan tak mungkin Anda sering turun ke lapangan. Awalnya, mungkin berat bagi Anda meninggalkan anak bersama orang lain, meskipun mereka adalah orang terdekat (orangtua atau baby sitter ). Oleh karenanya, Anda harus benar-benar mampu membagi hati dan pikiran Anda untuk pekerjaan. Jangan sampai, konsentrasi terpecah.

“Anak memang selalu menjadi masalah bagi ibu-ibu yang start up (memulai, Red.) bekerja lagi. Memang awalnya berat, apalagi kalau anak juga biasa dipegang Mamanya. Tapi, biasanya hanya sebentar, sekitar seminggu.”

Lama-lama, kata Erin, anak juga akan terbiasa dan belajar. Mereka bisa mengerti kalau kedua orangtuanya kini harus pergi bekerja. “Biasanya anak-anak itu, kan, enggak nangis  terus-menerus, hanya 5-10 menit. Setelah itu dia happy-happy  lagi. Ibunya saja yang suka merasa bersalah karena sudah meninggalkan anaknya menangis di rumah.” Intinya, gunakan waktu Anda di kantor seefektif dan semaksimal mungkin untuk melaksanakan tugas dan tanggung jawab Anda pada perusahaan.


3. Sesuai dengan Pendidikan

Pekerjaan apa yang cocok dikerjaan seorang freelancer ? Erin menjawab, apa saja yang sesuai dengan latar belakang pendidikan dan pengalaman Anda. “Salah satunya psikolog, bisa ikut assessment atau memberi psikotes di suatu tempat yang hanya memakan waktu beberapa jam. Setelah itu mengumpulkan data dan sisanya, seperti mengolah data dan membuat laporan, bisa dikerjakan dari rumah.”

Selain itu, dokter gigi atau dokter umum juga bisa dilakukan seorang freelancer . Para ibu bisa mengambil jam praktik yang fleksibel, misalnya sore hari dan hanya 2-3 jam. Sedangkan untuk yang senang bekerja kantoran, mereka bisa mencari pekerjaan sebagai input  data.Cukup datang ke kantor seminggu sekali, pekerjaan sudah beres. Jika memang tidak bisa diselesaikan di kantor, pekerjaannya bisa dibawa ke rumah dan hasilnya dikirim melalui e-mail  ke atasannya.

Hobi seperti crafting , memasak, fotografi, menata makanan, menulis, hingga menjahit juga bisa dijadikan pekerjaan lepasan, lho. Malah, saat ini pekerjaan lepasan seperti ini banyak dicari oleh perusahaan besar. 


4. Rumah atau Kantor?

Bekerja di rumah atau di kantor, semuanya tergantung dari ketersediaan pekerjaannya. Yang pasti, tidak ada pekerjaan yang tidak menuntut kita untuk ke “suatu tempat” atau “bertemu orang lain”. Bahkan yang berprofesi sebagai entrepreneur  tetap melakukannya.

“Biasanya pekerjaan yang banyak dilakukan di rumah itu online shop . Kalau freelance , kan, bekerja dengan orang lain atau perusahaan, hanya lepas waktu. Tergantung mana yang disukai Si Ibu. Penulis juga bisa. Mereka juga tidak perlu ke kantor.”


5. Buat Keluarga Mengerti

Membuat keluarga (suami dan anak) mengerti dengan keinginan kita bekerja (lagi) sangatlah penting. Hal ini harus dikomunikasikan agar tidak terjadi kesalahpahaman atau masalah di kemudian hari. Yang pasti, gunakan teknik bicara yang berbeda pada suami dan anak, ya. Kepada suami, sebisa mungkin masalah ini dibicarakan sebelum menikah. Lain halnya dengan anak, akan lebih baik jika Si Ibu mempersiapkannya beberapa hari sebelum ia mulai bekerja. Jangan pergi diam-diam dengan alasan takut anak menangis saat ditinggal. Hal itu malah akan membuat anak merasa cemas. Dan, tanyakan kabar anak via telepon di sela-sela pekerjaan. Setelah sampai di rumah, tanyakan kegiatan yang sudah dilakukan anak sehingga anak tak merasa kehilangan perhatian ibunya.

Jika masih menyusui, pintar-pintarlah mengatur stok ASI dalam freezer  untuk anak. Intinya, ibu sekaligus freelancer  harus pintar-pintar me-manage  segala sesuatu. 

Selamat bekerja kembali, Bu!

sumber : tabloid nova

Tuesday, 11 October 2011

Mendulang Emas dari Pekerjaan Sampingan

Tak jarang orang mencoba melakukan sesuatu yang “out of routine” baik hanya sekedar iseng atau serius. Seperti mencari pekerjaan sampingan. Tapi banyak yang justru jadi kewalahan sendiri ketika menggarap pekerjaan sampingan.
Berikut ini adalah sejumlah tips bagi Anda yang memiliki pekerjaan sampingan selain pekerjaan utama:



1. Pertimbangkan apa yang Anda lakukan. Jika Anda mencari pekerjaan sampingan untuk mendapatkan penghasilan tambahan, ada banyak cara mencarinya tanpa harus menguras energi fisik dan waktu secara berlebihan, ujar Katie Mattson, seorang motivator. Jika memiliki bakat menulis, Anda bisa mencoba menjadi penulis lepas untuk sejumlah majalah atau surat kabar. Pada intinya, coba mencari pekerjaan sampingan yang tidak terlalu banyak menuntut waktu dan tenaga sehingga Anda tidak terlalu kewalahan.
2. Jika mungkin, cari pekerjaan sampingan yang masih bertautan dengan profesi utama atau hal-hal yang Anda gemari. Misalnya, jika seorang pecinta mode dan memiliki selera fesyen yang baik, Anda bisa menawarkan diri menjadi fashion stylist paruh waktu.
3. Sisihkan waktu untuk diri sendiri. Pastikan kedua pekerjaan yang Anda geluti tidak menghabiskan seluruh waktu Anda sehingga tidak memiliki kesempatan untuk beristirahat dan mengisi ulang tenaga.
4. Temukan pekerjaan paruh waktu yang tidak bentrok dengan jadwal pekerjaan utama Anda. Cari pekerjaan sampingan yang memiliki waktu lebih fleksibel, misalnya dapat dikerjakan di akhir pekan atau setelah jam kerja utama Anda.
5. Jujurlah kepada kedua bos Anda tentang pekerjaan ganda yang Anda tekuni. Jelaskan bahwa Anda tidak ingin pekerjaan yang satu mengganggu pekerjaan yang lain. Pertahankan sikap profesional Anda. Jangan mencuri waktu dari pekerjaan utama untuk mengerjakan pekerjaan sampingan, dan begitu pula sebaliknya. Namun, jangan pula melupakan pekerjaan mana yang sebenarnya lebih penting untuk Anda.